Cerpen "Tak Terlupakan"

Jam menunjukkan pukul 13:25, lima menit lagi kapal itu akan segera berlayar menuju Negeri seberang, tumpukan viber penyimpan ikan meme...


Jam menunjukkan pukul 13:25, lima menit lagi kapal itu akan segera berlayar menuju Negeri seberang, tumpukan viber penyimpan ikan memenuhi badan kapal, kapal itu hanya mampu menampung 20-25 orang saja, mereka yang berpenghasilan rendah di daerahnya, merantau hanya untuk memberikan kehidupan yang layak untuk keluarga
Fatimah seolah tak mau pisah dari suaminya, tangannya tak lepas dari genggaman suaminya, perasaannya gelisah, melihat langit sudah dipenuhi awan hitam
“Abang, jangan pergi saja!”
“Hujan mau turun, apa abang tidak takut?”
Amir melayangkan pandangannya, memberi senyum manis dari bibirnya
“Tenang adinda, kemana pun kita pergi kalau ajal sudah menjemput, tak tahu apa yang harus diperbuat”
“Aku pergi hanya untuk mencari nafkah bukan berbuat maksiat’
Angin laut berhembus membuat matanya yang indah itu tertutup jilbab
“Betulkan jilbabmu!”
‘Jangan khawatir, maut sudah ditentukan tuhan”
Terdengar kapten kapal bersorak dari dalam kapal mengajak semua penumpang segera menaiki kapal
“Ayo, ayo yang belum naik, kita akan berangkat sekarang”
“Dinda, percayakah kau kepadaku?”
“Tolong, jaga dirimu, kalau aku tidak kembali dalam setahun , rumah dan sawah milikku menjadi milikmu”
“Tolong simpan surat wasiat ini, agar menjadi bukti untukmu, kalau nanti keluargaku ada yang menuai protes”
“Abang, jangan berkata seperti itu, hanya akan menambah kerisauan di hatiku”
Segera ia peluk istrinya, sebelum menaiki kapal
“Selamat jalan abang, do’aku selalu menyertaimu”
Amir sudah menaiki kapal, tangannya melambai-lambai sebagai tanda perpisahan
Kapal sudah meninggalkan pelabuhan menuju ke negeri seberang yang akan menghabiskan waktu 2 hari
“Hei kawan, sesampai di Negeri seberang, kamu hendak kerja dimana?’
“Aku belum tahu”, jawab Amir
“Nanti kamu ikut aku saja, kita cari kerja sama-sama, kebetulan pamanku sudah 10 tahun disana”
“Baiklah, nanti sesampai disana kita pikirkan lagi”, jawab Amir
Ombak semakin deras, hujan akan turun, kapal itu terlambung, hampir saja menenggelamkannya
“Hujan semakin deras, kita tidak bisa melanjutkan perjalanan, ayo segera berlabuh ke pulau terdekat” kata kapten
Terlihat dari tengah laut sebuah pulau kecil yang dipenuhi pohon-pohon besar, dengan susah payah kapal itu melaju menuju pulau itu yang konon namanya ku ketahui adalah pulau Jelantan
Jangkar segera diturunkan, kapal sudah merapat ke bibir pantai, semua penumpang turun dari kapal mencari tempat berteduh dibawah pohon
Sekira 2 jam mereka berlabuh disana, matahari mulai terlihat kembali
Kita akan segera melanjutkan perjalanan, karena perjalanan ini sangat berbahaya, maka ongkos saya naikkan 500 ribu
“Bagaimana bisa kapten, kami sudah membayar satu setengah juta sebelum berangkat”, kata Amir
“Ini peraturan kapal kami, ini uang keselamatan, kalau tidak kalian tinggal disini saja menunggu kapal lain melewati pulau ini kalau kalian beruntung”, jawab kapten
Terjadi percekcokan sesaat antara penumpang dan awak kapal, hingga akhirnya mereka menyetujui untuk membayar setengah harga, kapal kembali berlayar hingga malam tiba, terkadang mereka membantu awak kapal mengangkat jala
“Bukankah kita sudah melunasi semua biaya? Kenapa kita harus membantu mereka? Apa ini juga merupakan peraturan kapal?” kata Amir
“Sudahlah ini hanya sebentar, besok malam kita sudah sampai disana”
Jam menunjukkan pukul 1:00, para penumpang memilih untuk beristirahat ada yang tidur di lantai dan sebagian diatas viber, hanya nahkoda dan Amir yang tidak beristirahat, ia masih mengingat Fatimah yang ia tinggalkan di kampungnya bersama ibu dan adik-adiknya.
Malam itu Fatimah juga tidak tidur mengingat wasiat suaminya sebelum berlayar
“Apakah abang akan benar-benar meninggalkan aku selamanya?, oh tuhan tolong jaga ia untukkku”, gumam Fatimah dalam hati
Belum pernah ia ditinggalkan suaminya untuk waktu yang lama
Ditengah laut
Dari jauh Amir melihat beberapa perahu secara bersamaan menuju ke arah kapal yang ia tumpangi, hatinya tak tenang, gelisah menghantui dirinya, yang paling mengherankan sebuah kapal melaju di belakang perahu-perahu itu, kapal itu semakin dekat hanya berjarak 100 meter dari kapal yang ia tumpangi, awak kapal sudah terbangun, segera ia bangunkan Samsul
“ Kawan, ayo bangun ada perahu-perahu yang dibelakangnya dikawal kapal besar menuju kea rah kita”
Samsul segera bangun
“Apa? “
“Itu kapal perompak kawan”
Aku pernah dengar kalau ada perahu-perahu yang dikawal kapal itu kawalan perompak yang akan mengambil seluruh harta bahkan nyawa kita
Kapal-kapal itu semakin mendekat, Amir ingin membangunkan penumpang lainnya, tapi tidak dizinkan kapten
“Biarkan mereka tidur!kalau kalian macam-macam kalian akan kubunuh”, kata kapten
Amir dan Samsul hanya terdiam mendengar kapten berkata seperti itu
Samsul tetap dengan pendiriannya
Segera ia lemparkan tutup viber ke laut, membuat Amir heran melihat kelakuannya
“Kalau kamu mau selamat, ikuti aku kawan, ambil tutup itu dan ikut bersamaku”
Tanpa menunggu lama Amir melemparkan sebuah tutup Viber ke laut dan terjun bersama Samsul, kemudian mereka berenang dengan naik ke atas tutup itu
Perahu-perahu itu sudah sangat dekat, segera saja kapal yang tadinya ditumpangi Amir diberhentikan, kemudian mereka menaiki kapal itu dan menggeledah seluruh isinya, harta penumpang diambil, kemudian mereka dilemparkan ke laut
Kapten dan awak kapalnya tidak disentuh, ternyata ini sudah terencana dengan rapi, mereka membagi hasil malam itu, namun mereka keliru telah melupaka dua orang yang sudah melarikan diri terlebih dahulu
Amir dan Samsul terombang ambing dilautan hingga menjelang pagi, mereka ditemukan oleh nelayan pulau terdekat
“Kawan, Alhamdulillah kita selamat”, kata Samsul
“Tapi, bagaimana nasib mereka yang tadi malam dirampok?,” tanya Amir
“Aku tidak tahu kawan, ini skenario dari kapten bejat itu, padahal kita sudah dirampoknya secara percuma di pulau Jelantan, sekarang kita dirampok dengan terpaksa”
“Sudah kawan, bersabarlah dengan keadaan ini, rebahkan dirimu di pondok ini melepas lelah karena berenang semalam”
Semilir angin pantai menenangkan pikiran mereka, hingga terlelap, namun badan mereka seolah beku, karena berjam-jam di dalam air laut yang sangat dingin
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Azan Ashar berkumandang, Amir terbangun dari tidurnya, ia bangunkan Samsul yang masih terlelap, mereka melaksanakan shalat Ashar mengenakan baju pemberian warga, mereka masih terlihat linglung, warga di pulau itu memandangi mereka kemana pun mereka pergi. Setelah Maghrib mereka menuju ke rumah kepala desa yang sudah dipenuhi oleh warga pulau itu
Lantas mereka menceritakan perihal mereka kepada warga
“Kalian boleh tinggal di kampung ini untuk beberapa saat sebelum kalian dipulangkan”, kata kepala desa
“Terima kasih, atas bantuannya”, jawab Amir
Sudah tiga bulan mereka disana, makan dari pemberian warga dan tidur di pondok kecil yang tidak berdinding, malam terasa sangat dingin tanpa selimut yang tebal
Dalam pikirannya terbayang Fatimah, ibu dan adik-adiknya di kampung
Fatimah dan Ibu Amir terus saja mencari berita keberadaannya, mereka menunggu kapal yang mengantar suaminya dulu, tak pernah kembali, tak ada berita apa pun, hanya kegelisahan yang menaungi mereka, hingga berat badan Fatimah turun drastic
“Anakku, percayalah kalau suamimu pasti akan kembali”, kata ibu
Hanya tangisan yang menjadi jawaban Fatimah
Akhirnya, pada suatu hari Amir dan Samsul kembali di dudukkan bersama kepala-kepala desa kampung tetangga
“Maaf, sebelumnya kami memanggil kalian dengan tiba-tiba, kami hanya ingin membantu kalian dan kami juga membutuhkan bantuan kalian berdua”
“Kami bersedia membantu bapak-bapak”, jawab Samsul
“Kami merencanakan akan menangkap seluruh perompak yang merampok kapal kalian malam itu, tapi kami ingin tahu pasti dimana tepatnya kalian dirampok”
Kemudian Amir ceritakan dimana tempat ia dirampok
Keesokan malamnya, setelah shalat Isya, kampung itu sudah dipenuhi oleh warga-warga dari kampung sekitar lengkap dengan alat dengan parang dan sebagian membawa senapan angin, belasan kapal besar sudah berkumpul di bibir pantai
Sebuah kapal yang ditumpangi Amir dan Samsul melaju di depan,ketika hamper sama di tempat kejadian, kapal itu dibiarkan melaju sendiri ke depan sebagai umpan
“Kita sudah sampai disini, tapi mereka belum juga sampai”, kata Amir
“Bersabarlah aku yakin mereka akan datang”, kata kepala desa
Tiga jam kemudian, terlihat beberapa perahu yang juga dikawal oleh sebuah kapal mendekati kapal yang ditumpangi Amir, ketika hampir sampai segera saja mereka dikepung oleh kapal warga yang sudah mengintai dari jauh, tidak ada perlawan karena jumlah mereka sedikit, mereka dipukuli oleh warga hingga hampir mati, kapal dan perahu-perahu mereka dibakar ditengah laut bersama seorang ketua dan beberapa orang yang melakukan perlawanan
Sisanya diangkut menggunakan kapal warga menuju kampung termasuk kapten yang pernah membohongi dirinya dan Samsul
Sebuah tendangan melayang di muka kapten itu, kemudian bertubi tendangan dan tonjokan melayang di wajahnya, hingga membuat wajahnya remuk
Tidak ada yang warga yang melerai, bahkan mereka setuju kalau mereka dibakar hidup-hidup
“Binatang, kau bohongi kami, kau bunuh semua penumpang demi kau ambil hartanya, bangsat”, kata Amir dengan penuh kemarahan, emosinya meledak-ledak
Samsul tampak kelelahan, tak ada suara, hanya keluhan rasa lelah karena telah melayang puluhan pukulan yang ada
Akhirnya mereka diserahkan kepada pihak berwajib, setelah diadili massa, setelah kejadian itu tidak ada lagi namanya perompak di daerah itu
Amir dan Samsul dipulangkan ke kampung halaman, sesampai disana, hanya tangisan dari warga yang terdengar, ada yang meratapi anak, ayah, dan suami mereka yang menjadi korban perompakan malam itu
Isak tangis juga mengalir dari mata Fatimah, istri Amir
“Abang, sudah kubilang jangan pergi, kenapa abang pergi?” Tanya Fatimah sembari menangis, meratapi nasib suaminya”
“Sudahlah dinda, yang penting aku sudah kembali dengan selamat”
“Kau jangan tinggalkan aku lagi, beberapa hari kau tinggal, aku sudah sangat merindukanmu, bagaimana kalau kau pergi dan takkan kembali?”
“Maafkan aku dinda, ini akan menjadi perjalananku yang terakhir, aku akan bekerja sebagaimana biasanya tanpa harus berharap gaji yang banyak”
Ibu dan adik-adiknya juga ikut menangis, meratapi nasib anak dan abang mereka
Mulai hari itu ia berjanji takkan pernah merantau lagi, trauma dengankejadian yang menimpanya, dan sadar kalau sebaik-baik orang hanyalah orang kampung sendiri, tak ada penipuan dan pembodohan

Karya Wildan El Fadhil
21-1-2016
Banda Aceh

Sekolah Hamzah Fansuri
Name

Budaya Galeri News Sastra Tahu Tahu Nggak Tips travel
false
ltr
item
Haba Seuramoe: Cerpen "Tak Terlupakan"
Cerpen "Tak Terlupakan"
https://1.bp.blogspot.com/-E56zPrQuQj4/VqItSQ38m3I/AAAAAAAABCg/Cj94wVHdxH0/s640/Ghost-Ship.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-E56zPrQuQj4/VqItSQ38m3I/AAAAAAAABCg/Cj94wVHdxH0/s72-c/Ghost-Ship.jpg
Haba Seuramoe
http://habaaseuramoe.blogspot.com/2016/01/cerpen-tak-terlupakan.html
http://habaaseuramoe.blogspot.com/
http://habaaseuramoe.blogspot.com/
http://habaaseuramoe.blogspot.com/2016/01/cerpen-tak-terlupakan.html
true
8632046939406554501
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy