Cerpen "Paman.....Jangan Tinggalkan Aku"

     Ilustrasi “Bukankah paman sudah meninggal beberapa tahun yang lalu?” Sulaiman hanya tersenyum mendengar perkataan Samsul “T...


     Ilustrasi

“Bukankah paman sudah meninggal beberapa tahun yang lalu?”
Sulaiman hanya tersenyum mendengar perkataan Samsul
“Terus lanjutkan omonganmu Samsul!, bukankah hari ini pesta pernikahanmu? Bersenang-senanglah, ucapkan apa yang kau suka, aku disini Cuma untuk menghadiri hari bahagiamu”
“Lantas kemana saja kau selama ini paman?”
“Aku lelah mencarimu kesana kemari, berita tentang keberadaanmu seolah hilang dimakan waktu”
“Aku mengira kau sudah mati, sampai diriku mengadakan tahlilan untuk kematianmu”
“Tidak Samsul, jiwaku telah mati, tapi rasa sakit hatiku masih berada dalam hatiku”
“Lantas, apa maksud paman?”
“Sebentar lagi kau akan tahu Samsul, biarkan waktu menjawab”
“Simpan ini untukmu, jangan kau buka sampai waktunya tiba”
Sulaiman menyerahkan sebuah  bungkusan kecil, yang isinya tidak diketahui oleh siapa pun
Dalam sekejap Sulaiman menghilang
“Paman... paman, kemana kau?”, teriak Samsul
“Sul..Sul bangun sudah subuh,  ayo bangun”
Ibu membangunkan Samsul dari  guyonan mimpinya bersama Sulaiman
“Kau memimpikan pamanmu lagi?
“Iya bu, bayangan paman selalu muncul dalam lamunanku, tak tahu kemana dirinya, masih hidup atau tidak”
“Aku sangat merindukannya bu”
“Sudahlah anakku, do’akan saja dia, semoga dia  dalam lindungan tuhan dimanapun dia berada”
“Hari ini kau akan memulai hidup baru bersama gadis yang kau cinta, kurasa pamanku akan cukup bahagia mengetahui itu”
"Semoga tuhan merahmatinya, dan menjaga jalannya dimanapun berada”, sahut Samsul
Seraya ia tinggalkan ibunya menuju kamar mandi untuk berwudhu, tak terasa semenjak bangun tidur tangannya terus menggepal, seolah ada sesuatu dalam genggamannya
“Astaghfirullah, apa ini?’
Seraya lamunannya mengingat Sulaiman dan pesan yang ia sampaikan
Ia simpan bungkusan berwarna biru tua itu didalam lemari, tak pernah ia usik, kecuali disaat istri yang baru ia nikahi hari itu menanyakan isi bungkusan itu kepadanya
“Apa isi bungkusan ini suamiku?”
“Tidak dinda, ini hanya bungkusan biasa, jangan kau buka sampai masanya tiba”
“Apa maksud kanda?”
“Tidak, kau tidak perlu tahu sampai masanya kita akan tahu sendiri isi bungkusan itu saat waktunya telah tiba”
Setahun sudah ia menjalani hidup  bersama istrinya, perubahan fisik pada diri istrinya telah terjadi, istrinya sedang mengandung anaknya yang pertama, dan beberapa hari lagi akan melahirkan
Mereka bersabar menunggu hari kelahiran rasa cemas menghantui mereka
“Kanda aku gelisah, aku takut”
“Apa yang kau takutkan dinda?”
“Tak usah kau pedulikan, sudah banyak orang merasakannya sebelum dirimu, lantas mereka tidak mengalami kejadian apa-apa”
Zubaidah hanya terdiam mendengar ucapan suaminya
Malam itu Sulaiman kembali muncul dalam mimpimya
“ Paman, kemana saja kau selama ini? Kau menghilang setelah memberikanku sebuah bungkusan”
“ Bersabarlah Samsul, waktunya hampir tiba, saat itu kau tidak akan mencemaskan aku lagi”
“Paman apa maksudmu?”
Sulaiman hanya tersenyum dan hilang dari pandangan Samsul
‘Paman... paman tidak paman, jangan tinggalkan aku, hanya kau yang menjadi penjagaku dikala ku susah, semenjak ayah meninggalkanku selamanya”
“Pamaaaan...”
“ Bangun bang, ayo minum ini”
Istrinya membangunkan Samsul dari lamunan mimpinya bersama Sulaiman, matanya dibasahi air mata
Hari itu istrinya melahirkan anak pertamanya
Bayang-bayang Sulaiman masih menghantui dirinya
Sanak keluarga, tua muda menghadiri rumahnya, termasuk Arfa pamannya dari pihak ibu
“Kakak, apa setidak seharusnya kakak menemani Samsul menjaga istrinya yang baru saja melahirkan, apalagi mereka belum begitu berpengalaman”
“Biarkan aku yang di kamarmu malam ini, apalagi suasan di ruang tamu cukup dingin”
Kakaknya menyetujui apa yang ia maksud, mengingat anak dan menantunya yang baru saja menimang anak yang pertama
Jam sudah menunjukkan pukul 2:30
“Andai ayah dan paman masih berada di sisi kita, pasti mereka akan sangat senang melihat putraku bu”
“Sudah anakku, jangan berandai-andai, ayah dan pamanmu sudah berada ditempat yang aman”
Di kamar ibunya, Arfa sedang sibuk mengotak-atik sebuah brankas yang terbuat dari baja peninggalan suami kakaknya, ayah Samsul
“Tidaaaaak.....”
“Jangan ganggu aku”
Terdengar teriakan dari kamar ibunya yang membuat setiap orang yang berada di rumah itu termasuk sanak saudara yang tertidur di ruang tamu ikut terbangun
“Ada apa  paman?”
Arfa hanya terdiam, ketakutan menghantui dirinya
“Lantas apa yang paman lakukan dengan obeng itu di kamar ibu?”
“Maafkan aku, keponakanku”
“Apa maksud paman?”
“Akulah yang telah membunuh Sulaiman, pamanmu”
“Apa? binatang kau paman”
Seraya tonjokan melayang di wajah Arfa
“Tak kusangka kau membunuh orang yang sangat aku cintai sepeninggal ayahku”
Malam itu Arfa digiring ke kantor polisi, disana ia mengakui semua kesalahan yang ia lakukan
Sulaiman dibunuh karena menyimpan rahasia dari ayahnya Samsul, ia dikuburkan  hidup-hidup di dalam sebuah sumur tua kering, didalam hutan oleh Arfa
Kini tulang belulangnya telah ditemukan polisi, beserta pakaian yang terakhir kali dipakainya, baju itu berwarna biru tua
Arfa sudah mendekam didalam penjara, ia sudah tidak waras, bayangan Sulaiman selalu muncul dihadapannya, sehingga ia antuk-antukkan kepalanya di dinding penjara
Samsul merasa bingung dengan semua yang terjadi, hari itu ia teringat bungkusan yang diberikan Sulaiman dalam mimpi, ia buka bungkusan itu dan mendapatkan sebuah kunci yang tak lain adalah kunci brankas milik ayahnya
“Ibu mana brankas milik ayah?”
“Brankas itu masih tersimpan di kamar ibu, nak”
Segera ia buka dan mendapati sepucuk surat beserta batangan emas yang berkilauan didalamnya
Dalam surat itu ayahnya berpesan
“Anakku Samsul, buah hati yang kusayang, hidup ayah tidak mungkin abadi, ayah hanya manusia biasa yang sudah uzur, aku takut sepeninggalku tak ada lagi yang menafkahimu, Sulaiman, pamanmu adalah orang yang baik, kutitip kalian padanya, jaga ibumu anakku, suatu saat kita akan berjumpa kembali setelah kematian menjemput kita semua”
Air mata mengalir dari mata Samsul dan Ibunya
“Tidak salah lagi bu, paman dibunuh karena menyimpan harta yang ayah titipkan kepadanya”
“Bejat sekali lelaki yang membunuhnya, takkan kumaafkan sampai kapanpun”
“Jangan berkata seperti itu anakku, dia juga pamanmu, adikku”
“Apa orang seperti dia patut dikasihi? Apa orang seperti dia patut dikatakan keluarga?”
“Mana ada seorang paman tega memisahkan keponakannya dari orang yang ia cintai setelah ditinggal mati ayahnya”
Hanya air mata yang mengalir di pipi ibunya
Sulaiman sudah pergi dengan tenang, tulang belulangnya telah disemamyamkan ditempat yang layak, malam itu Samsul didatangi Sulaiman dalam mimpi untuk ke sekian kalinya,
“Sudah selesai keponakanku, semua sudah berakhir, kebenaran sudah terungkap, tak perlu kau khawatirkan aku lagi”
“Paman.. paman, jangan tinggalkan aku!”
Air mata kembali menetes, ibu dan istrinya hanya bisa beristighfar dan coba menenangkan dirinya
 Setelah malam tak ada lagi mimpi  yang mengejutkan Samsul dari tidurnya. Keadaan telah  kembali normal, setelah kebenaran terungkap


Name

Budaya Galeri News Sastra Tahu Tahu Nggak Tips travel
false
ltr
item
Haba Seuramoe: Cerpen "Paman.....Jangan Tinggalkan Aku"
Cerpen "Paman.....Jangan Tinggalkan Aku"
https://3.bp.blogspot.com/-AynBBoNoVCY/Vqm47D6k-OI/AAAAAAAABEM/y15yXgLHKEA/s640/ilustrasi-_120918075316-146.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-AynBBoNoVCY/Vqm47D6k-OI/AAAAAAAABEM/y15yXgLHKEA/s72-c/ilustrasi-_120918075316-146.jpg
Haba Seuramoe
http://habaaseuramoe.blogspot.com/2016/01/cerpen-dengan-judulpaman-jangan.html
http://habaaseuramoe.blogspot.com/
http://habaaseuramoe.blogspot.com/
http://habaaseuramoe.blogspot.com/2016/01/cerpen-dengan-judulpaman-jangan.html
true
8632046939406554501
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy