Kisah Negeriku Yang Damai

Tahun 2075 Aku seorang jenderal tua kerajaan Aceh Darussalam, negeri yang makmur, tidak ada pengangguran, negeri penuh ilmuan, s...




Tahun 2075
Aku seorang jenderal tua kerajaan Aceh Darussalam, negeri yang makmur, tidak ada pengangguran, negeri penuh ilmuan, sastrawan dan hartawan. Para mahasiswa menyibukkan diri memproduksi berbagai alat dari perkakas rumah hingga peralatan perang canggih berenergi listrik dan surya.

Bukti sebuah kemajuan yang tak pernah kurasakan dulu di era  90an. Buah kelapa yang dulu di masaku hanya menjadi minuman, kini di negeriku buah itu menjadi peralatan perang “Bom Atom”. Aceh tak lagi provinsi, namun sudah menjadi kerajaan, dengan kepala negara sultan Muhammad. Sultan yang adil lagi arif, Aceh tidak berhukum kecuali dengan al Qur’an dan Hadits nabi

Negeriku tak lagi mengimpor barang dari luar, negeri ini sudah mapan, padi tak lagi ditanam di sawah, benihnya cukup ditaburi di tanah dalam waktu 2 minggu sudah bisa dipanen. Sawah- sawah  dan sungai-sungai yang dulu sering kulihat sekarang menjadi pusat perkantoran bahkan disulap menjadi tempat wisata. Irigasi sudah dibuat di bawah tanah disamping rel kereta api. Kapal-kapal berminyak sudah tidak digunakan lagi, sudah diganti dengan kapal baja yang menggunakan energi matahari.

Tugas polisi di kerajaanku tak lagi jadi preman, bahkan mereka kini hanya pengatur lalu lintas yang dilewati mobil tak terinjak tanah. Aspal, tak lagi hitam berubah menjadi putih, bumi Aceh sudah memiliki lampu penerang yang terapung di awan tak basah hujan tak terbakar matahari. 

Pencuri malang tak ada lagi, hanya menjadi misteri, rakyatku terheran-heran sangat mendengar kata “pencuri” yang katanya sadis sekali, merampok dengan segenap jiwa, merasai segenap harta.

Aku seorang tua berumur 190an, sultan sangat menghormatiku, karena jenggotku yang sudah putih atau mungkin karena aku seorang saksi sejarah kelabu negeriku? Itu menjadi pertanyaan, yang selalu muncul dalam pikiranku. Masa mudaku tak seperti ini, dulu perang dimana-mana, sampai aku tidak bisa sekolah karena takut dihantam peluru tentara. Hidupku sekarang tak lagi sama, rasa suka dukaku bersama kawan-kawan di medan perang hanya sebatas kisah. 

Sekarang aku hanya tua renta yang penuh dengan cerita, terkadang aku termenung sendiri mengingat masa-masa duka perjuangan dulu, kadang kuceritakan pada kopral-kopral bawahanku, setiap kuceritakan pasti mereka menitikkan air mata.

Dulu, pelajar dan mahasiswa memiliki tugas ekstra, tidak hanya belajar namun juga penuntut beasiswa, bahkan mereka juga penggerak masa, menentang rezim yang berkuasa. Demo dimana-mana ,asap dimana-mana, sorakan juga memekakkan telinga, hantaman batu menghancurkan kaca-kaca, perang tidak hanya menggunakan senjata namun juga perang urat saraf. Sistem pemerintahan masih amburadul, pengeluaran dana besar-besaran namun hasil entah bagaimana.


Kisahku di tahun 1990
Waktu itu aku berumur 17 tahun, tugasku sekolah yang benar dan jadi tentara, kadang waktuku lebih lama jadi tentara daripada jadi pelajar, darah sudah biasa kulihat, air mata sudah biasa aku teteskan. Bagaimana tidak, kawanku terkapar mati di depanku, wanita banyak yang diperkosa, pencurian dimana-mana,anak-anak banyak yang disiksa.Bagiku kami tidak hanya menghadapi tentara Indonesia tapi juga pengkhianat bangsa.

Lama kelamaan kawan-kawanku mulai goyang dengan perjuangan merebut kemerdekaan. Mereka mulai berpikir, kapan kita merdeka?

Jenderal Abdullah mulai memberi semangat “ Hudep beusare, mate beusajan ngen sikrek kafan, saboh keureunda”. Aku sedikit bingung dengan kata-kata itu, aku mulai jenuh dengan perjuangan, aku mulai menggerutu, berharap nyawaku cepat diambil, tak kuasa hidup dalam pelarian, di negeriku sendiri aku dikejar bagai maling. Padahal kami adalah penuntut keadilan sampai kami mendapatkan kemerdekaan.

Kuceritakan semua ini pada sultan Muhammad, ia terdiam tak menduga akan keadaan negerinya di zaman dahulu

“Namun bagaimana kau bisa bertahan sampai sekarang jenderal?”, sultan bertanya kepadaku

“Aku hanyalah makhluk ,sultan, tuhanku masih mengizinkan aku untuk melihat gemilang negeriku, tidak ada kemajuan tanpa perjuangan, tidak ada kemerdekaan tanpa tetesan air mata dan darah”

Sultan semakin terkejut,“aku merasa dirikulah yang menciptakan kemajuan ini, jenderal. Ternyata kalianlah pejuang sejati pencipta kedamaian”.

“Tidak sultan, kami berjuang demi keadilan bukan demi kemajuan, kemajuan bukan segalanya sultan, keadilan harga mati, tanpa keadilan hidup takkan damai dan berarti.”

Kulihat sultan mulai menitikkan air mata, perasaanku berkata, ia merasa bersalah dengan sejarah negerinya, karena ternyata kemajuan negerinya tidak dicapai dengan mudah, tapi dengan tetesan darah dan air mata pendahulunya.

“Aku tak mengira kalau negeriku begitu menderita, aku hanyalah penikmat saja, bukan pejuang, andai bisa ku kembali ke masa itu, aku akan berperang membunuh semua musuh yang ingin mengusik negeriku.” Kata sultan dipenuhi dengan tetesan air mata.

Belum pernah kulihat seorang sultan agung di masa yang penuh dengan kedamaian meneteskan air mata. Ku diam sejenak melihat ia terisak-isak, menunggu ia menghela
Kemudian kulanjutkaan,

“Sudahlah Sultan, tugasmu hanyalah mempertahankan kedamaian, bukan berandai-andai yang hanya akan menimbulkan murka tuhan., kerajaanmu sudah berdiri kokoh, kekuasaanmu sudah luas, namamu sudah dikenal seantero dunia, negara-negara kafir sudah mulai takut dengan kekuasaanmu, ku rasa itu sudah cukup mewakili perjuangan kami dulu.” 

 Sultan memelukku erat,air mata tak sanggup ia tahan ,“ terima kasih jenderal, jika kau terlebih dahulu meninggalkan dunia ini daripada aku, tolong sampaikan rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya pada  nenek moyangku, namun kalau aku terlebih dahulu menimggalkan dunia ini biarlah aku saja yang mencium kaki-kaki mereka sebagai rasa terima kasihku”

“Baik Sultan”

Aku ikut meneteskan air mata, tak kuasa mendengarkan kata-kata seorang sultan agung yang begitu bijaksana

Dalam hati ku berkata” Terima kasih tuhan atas nikmat yang kau berikan, engkau telah anugerahkan negeri yang penuh kedamaian, ditambah dengan sultan yang arif yang menjadikan kitabmu sebagai pedoman “

Sejak saat itu kulihat sultan mulai memasukkan kisah-kisah perjuangan bangsa dalam orasi maupun tulisan-tulisannya di media, dan selalu di akhir orasi maupun tulisannya di akhiri dengan “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan, bukan hanya para penikmat kemakmuran”

Name

Budaya Galeri News Sastra Tahu Tahu Nggak Tips travel
false
ltr
item
Haba Seuramoe: Kisah Negeriku Yang Damai
Kisah Negeriku Yang Damai
https://2.bp.blogspot.com/-97CL89bkDN8/Vm_oMwcDRJI/AAAAAAAAA_o/hqTbwi9rqXQ/s640/petakerajaanaceh.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-97CL89bkDN8/Vm_oMwcDRJI/AAAAAAAAA_o/hqTbwi9rqXQ/s72-c/petakerajaanaceh.jpg
Haba Seuramoe
http://habaaseuramoe.blogspot.com/2015/12/negeriku-yang-damai.html
http://habaaseuramoe.blogspot.com/
http://habaaseuramoe.blogspot.com/
http://habaaseuramoe.blogspot.com/2015/12/negeriku-yang-damai.html
true
8632046939406554501
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy